Jumat, 15 November 2013

Cerita Kota-ku



Sabtu, 19 Oktober 2013 pukul 18.18 WITA

Saat ini merupakan malam terakhir-ku menghabiskan waktu liburan kuliah di kampung  masa kecilku, katakanlah liburan kali ini merupakan bonus dari hari raya Idul Adha buatku yang sejatinya liburan kali ini deberikan oleh pihak kampus sehubungan dengan adanya kegiataan pertemuan Forum Rektor se- Indonesia – Thailand yang sekaligus dengan Expo kampusku.

Minggu 13 oktober atau dua hari sebelum perayaan hari raya Kurban saya bertolak dari kota Kendari, tempat tinggalku sekarang. Menggunakan sebuah sepeda motor saya pun meluncur dengan penuh semangat dan dengan rasa Rindu tak tertahan bak sebuah granat nenas yang hulu ledaknya telah dilepas dan siap memporak-porandakan titik dimana ia akan dijatuhkan. Rindu kepada kedua orang tuaku juga kepada adik bungsuku Firda yang telah lama tak kujumpai, sekalipun suara mereka hamper setiap hari kudengarkan melalui telepon.

Perjalanan selama dua jam dari Kendari menuju kota kecil dimana saya tumbuh besar pun menjadi tak terasa, yang semakin terasa hanyalah rasa ingin jumpa kepada mereka Malaikat serta bidadari ku di rumah. Sepanjang perjalananku kali ini terbilang cukup berwarna, bukan karena ada pelangi yang kujumpai di melainkan karena dua kali kujumpainya darah korban kecelakaan di jalanan yang kulewati. Hal itu pula yang membuatku terpaksa beristirahat dari perjalananku untuk menenangkan diri setelah melihat darah dan korban kecelakaan yang tergeletak ditengah jalan.

Tetapi, inti dari apa yang akan saya ceritakan kali ini bukanlah tentang cerita berlebaran bersama keluarga ku yang sudah pasti penuh suka cita, bukan pula mengenai detail dari cerita silaturuhamiku ke setiap rumah sanak saudara maupun kolega terdekatku. Iya, ini tentang situasi yang terjadi di kota kecilku saat ini. Karena ada banyak hal yang berubah menurutku, mulai dari setiap sudut kota yang tak lagi sama dengan apa yang terekam indah dalam memoriku sampai pergeseran nilai-nilai social,budaya bahkan politik dari apa yang pernah saya lalui dahulu.

Ceritakupun kembali mengerucut bukan dari membahas setiap perubahan tersebut secara umum, tetapi perubahan yang menurut saya membuat kotaku ini diambang kegelapan bahkan bisa membuat semua cerita hebat tentang kota ku yang dulu diminati banyak orang ini menjadi tiada arti lagi.

Wonua Mekongga diambang kehancuran…..

      Cerita ini bermula dari perubahan system perpolitikan yang terjadi dinegeri ini. Perubahan yang kemudian mengantarkan orang-orang menjadi begitu serakah, berebut tahta dan jabatan dengan menghalalkan segala cara.

    Adalah Demokrasi, kata yang begitu agung dan diagung-agungkan sebagai sistem pemerintahan yang kata mereka cocok untuk negeri ini. Dimana kata-kata manis “Dari Rakyat, Oleh rakyat dan Untuk Rakyat” menjadi rayuannya berhasil memperdaya rakyat dinegeri ini. Bukan karena sistem yang keliru, tapi karena manusia serakah yang ada dinegeri ini yang memaknai demokrasi sebagai tambang buat mereka mengeruk seluruh potensi yang ada dinegeri yang kaya ini untuk kepentingan pribadi mereka.
              
   Betapa tidak, tengok saja sejak berlakunya pemerintahan dengan sistem demokrasi segala aspek kehidupan dinegeri ini menjadi kacau tanpa terkecuali. Bahkan telah ada yang berani berkata bahwa zaman orde baru  saat ini kembali dirindukan.

Sejak para kepala daerah dipilih secara langsung oleh rakyat, banyak orang-orang munafik bermunculan kepermukaan. Berpura-pura peduli dengan kondisi bangsa, mengobral janji, membual sana-sini saat berkampanye agar mereka terpilih tetapi begitu mereka menduduki jabatan, apa yang mereka lakukan? Fakta bahwa begitu banyak kepala daerah (sebut saja mereka pencuri) yang ketika berhenti menjabat langsung ditangkap dan ditahan karena keserakahan mereka. Dan tidak kalah banyaknya pula kepala daerah yang dipaksa mengakhiri karirnya secara premature oleh Penegak Hukum karena masalah yang sama seperti yang diatas. Itu semua akibat tidak dimaknainya “demokrasi” sebagai sistem yang baik.

Nah, hal itu pula yang terjadi didaerah ku saat ini. Besok (20/10) merupakan hari yang katanya bersejarah bagi wonua mekongga-ku karena boleh jadi esok hari akan terpilih pemimpin yang agung nan suci yang akan membawa mekongga kepada kejayaannya seperti saat Bokeo Sangia ni Bandera memimpin Mekongga. Tetapi besar kemungkinan itu hanya mimpi yang akan terus datang disetiap pemilihan kepala daerah dikotaku ini.

Hal yang membuat saya berpikiran hingga se-ekstrim ini karena sehari setelah saya tiba disini, saya sudah disuguhi tontonan aksi kotor para tim sukses calon kepala daerah ini. Saat sang fajar baru memulai memecah gelap pagi hari, saat saya baru saja menjalankan ibadah shalat subuh saya sudah mendapati 2 lembar kertas didepan pintu rumah. Ahh,, pikiranku berkata bahwa itu hanya salah satu modus penipu untuk mencari uang, sama sepperti mama yang meminta pulsa karena sedang dikantor polisi. Tetapi saat kertas itu hendak kulangkahi, mataku dipaksa menoleh kembal kearah kertas tersebut. Kudapati gambar seorang calon kepala daerah dikertas tersebut telah diedit sedemikian halusnya sehingga nampak si calon tersebut keliahatan lemah dan takut menghadapi seorang wanita yang dikertas tersebut digambarkan sebagai istri dari si calon. “Jangan pilih Pemimpin yang kepada Isterinya saja takut!!”, begitu tulisan dikertas tersebut menjadi judul bacaan pertamaku subuh itu.

Begitu rendahnya mereka (para calon) menghargai rakyatnya, sehingga dengan tidak merasa berdosa mereka menghamburkan fitnah keji kemasyarakat. Mengajak semua orang-orang yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi ikut-ikutan memfitnah yang bisa saja berujung pada keributan antar pendukung calon terntentu.

Tak sampai disitu, hari ketigaku di kota ini kembali saya diperdengarkan berita tentang tanda—tanda kehancuharan negeri ini. Pagi itu, sekitar pukul 09.30 waktu setempat tengah berlangsung pelantikan pejabat-pejabat baru dalam tatanan pemerintahan. Salayaknya berita itu tidak akan heboh kalau saja kita semua tidak tahu apa yang menjadi penyebab dari pelantikan, pemutasian bahkan pencopotan jabatan yang terjadi dipagi itu. Atau kalau saja hal itu terjadi karena alasan yang sewajarnya. 

Dari sumber yang sangat bisa saya percaya kegiatan tersebut merupakan intrik dan manuver politik yang dilakukan oleh salah satu calon kepala daerah yang notabene adalah incumbent. Orang-orang dinilai tidak berada dipihaknya yang mempunyai jabatan strategis dan dianggap punya pengaruh dan berpotensi bisa mempengaruhi bawahannya dicopot jabatannya tanpa ampun. Tak sedikit dari korban politik itu di “buang” kedaerah terpencil dan ditugaskan disana. Sementara sebagai pengganti mereka dipilih orang-orang yang telah mengikat janji untuk mendukung penuh si Incumbent. 

Tentu kita semua tahu kenapa ini menjadi titik kehancuran wonua mekongga. Pemerintahan yang bekerja tidak lagi berpikir untuk meningkatkan pelayanan, kinerja serta tanggung jawab bekerja. Mereka semua bekerja demi jabatan dan uang. Kinerja seseorang tidak lagi menjadi poin utama dalam penentuan pemimpin dari setiap posisi penting dipemerintahan, yang dibutuhkan dalam menentukan siapa yang layak adalah siapa yang tunduk terhadap kemauan pemimpin. Tak jarang pula orang-orang kemudian rela menjual harga diri, rela diperbudak, bahkan menjadi penjilat demi mendapatkan kedudukan. 

Sungguh miris mendapati kenyataan bahwa mereka yang berkompeten, bertanggung jawab dan berintegritas harus tersingkirkan dan kehilangan kesempatan untuk memajukan daerah hanya karena keserakahan manusia yang mendewakan Uang dan jabatan. Mereka tergantikan oleh orang-orang yang tak punya rasa malu, yang rela melakukan apapun agar bisa mendapatkan jabatan penting tanpa harus berdarah—darah merintis karir dari bawah, dengan hanya tunduk-tunduk dan terus mengiyakan setiap apa yang keluar dari mulut penguasa tanpa harus memastikan kata-kata tersebut benar atau tidak. Dan lagi-lagi itu telah terjadi, benar-benar nyata adanya.

Maka sampailah saya pada sehari sebelum pesta rakyat yang mereka nantikan itu ( sengaja saya menunda kepulangan saya karena ingin menyaksikan moment tersebut). Dihari ini, saya lagi-lagi mendapati kejadian yang begitu mengganggu pikiran ku. “Serangan Fajar”, istilah tersebut merupakan jurus yang mereka anggap paling ampuh untuk menarik suar masyarakat. Yaa,, serangan fajar merupakan praktik Money Politic yang dijalankan didetik-detik akhir masa kampanye. Harapannya adalah orang kemudian berubah pikiran untuk memilih si penyerang. 

Siang tadi rumah saya kedatangan tamu yang tak asing bagi keluargaku, dia masih sepupu (keponakan ayahku). Tak lazim kehadirannya siang tadi, karena secara blak-blakan langsung menyerahkan 4 buah amplop putih bertuliskan salah satu nama Calon Kepala Daerah yang ikut bertarung lengkap dengan nomor urut si calon itu. Oh tidak…. Rumah kami mendapat serangan fajar!!    

Selasa, 25 Juni 2013

CORETAN KE-2 ( Cerita Menunggu-ku)

Wah,, blog-ku sudah lama tidak saya buka. Gimana kabar-mu kawan? (bicara sama blog-ku ini)
Sempat merasa berdosa juga sudah buat blog gini tapi malah dianggurin.

Oh iya,, kemunculan saya kali ini itu mau share tulisan saya (sebenarnya hanya coretan-coretan biasa sih) yang saya buat waktu tanggal 22 Juni kemarin.. Tentang apa tulisan ku ini ,,langung saja kalo gitu kita ke TEeKAPEe (kemudian musik dari para dalang berbunyi,, jeng jeng jeng....)




Today,  June 22th 2013.
Kembali menulis mungkin menjadi tema atau judul dari apa yang anda baca ini. Bukan karena lagi ingin menulis tapi karena benar-benar merasakan kebosanan yang sangat di tempat saya berada saat tulisan yang anda baca ini saya buat. Jadi, saya teringat “lagi” sama kebiasaan saya sewaktu semester 5 lalu kalau lagi bosan begini. Ya, saya akan langsung menulis (mencorat-coret buku) kalau saya merasakan kebosanan yang hampir mirip sama yang saat ini saya rasa. Masalah apa yang saya tulis itu ya sama seperti yang anda baca saat ini sampai tulisan ini berakhir.
Biasanya kalo tiba-tiba harus menulis begini saya pasti tulis apa yang ada diotakku saja, sesuai yang saya lihat, saya alami, saya rasakan. Saya paling tidak jago, juga tidak begitu suka sama tulisan yang berbau “FIKTIF”, saya bosan sama hal-hal rekayasa seperti itu (ya, karena setiap hari saat kuliah selalu saja pelajaran rekayasa yang saya dapatkan). Saya ini berada didunia nyata loh, untuk apalagi menciptakan dunia baru yang tidak jelas begitu? Eits,, tapi ini pendapat saya pribadi yah jadi nggak usah marah buat kalian yang sebelumnya sudah terlebih dahulu suka sama hal-hal fiktif, itu HAK Kalian.
Oke, saya  langsung saja bercerita yah (Diam sejenak,, mikir apa yang mo diceritakan). Nah,, saya mau bercerita tentang kenapa saya merasa bosan disini saja. Jadi, saat ini (waktu Indonesia bagian saya nulis cerita ini :D ) itu saya berada di Pelataran Kantor PT. Telkom Wilayah Sulawesi Tenggara tepatnya di gazebo dekat pos security-nya kantor ini. Saya kesini itu karena sehari sebelum hari ini saya sudah buat janji untuk ketemu “Klien” (calon pelanggan saja bacanya kalo nggak ikhlas baca “Klien” ) yang ingin dibuatkan PIN untuk komunitasnya. Jadi kemarin Deal ketemuannya disini, waktunya Ba’da Ashar.
Sesuai deal yang sepemahaman ku, datanglah saya kesini sebelum shalat Ashar karena takut buat si “Klien”ku ini menunggu lama. Maklum saja, jarak rumahku kesini itu jauh belum lagi kalo harus berangkat dari rumah berarti saya berangkatnya sesudah saya shalat Ashar juga. Kebayangkan bagaimana kira-kira kalo  seandainya si “Klien”ku ini yang harus nungguin saya? Ga’ etis bangett. Kan dia itu Klien pertama ku,, hehehehe. Ntar kesannya langsung jadi jelek gitu. Tapi, ternyata saya lupa kalau saya ini berada di Indonesia. (tau maksud saya kan?) Saya kepagian datang kesininya, malah mungkin bisa dikatakan kalau saya kesubuh-an datangnya. Si “Klien” saya ini ternyata baru beranjak mau mandi saat saya sudah tiba disini (saya taunya saat saya sms dia). Tapi setelah membaca sms itu, akhirnya berpikir kalau Saya mungkin juga salah mengartikan bahasa penunjuk waktu “Ba’da Ashar” itu. Iya, ternyata baru tersadar saat ini kalau Ba’da Ashar itu rentang waktunya lumayan panjang. Sebelum waktu Maghrib datang ya tetap ba’da Ashar juga namanya (sekalipun jam 5.30).  Pppfffttthhh  ……
(titttttttttttttttttttttt,,,ceritanya di stop dulu. Klien ku datang, ntar kalo sudah dirumah Insya Allah ceitanya diusahakan selesai)

Oke,, cerita saya lanjutkan lagi karena sekarang saya sudah dirumah.
Sambil menunggu si Klien-ku ini datang saya celingak-celinguk kesekitar saya, banyak orang ternyata. Tapi kesemua mereka yang da disini itu ya hanya saya yang saat ini hanya sendiri. Duduk didepan laptop, tidak jelas apa yang dibuat sampai akhirnya saya kepikiran untuk mendatangkan  salah seorang teman  saya (Ia juga tim saya kalo kerja project bgini).
Deemonn(sedikit mengalami penyamaran nama) namanya, dia itu Tukang Desain-nya Tim kami. Kebetulan project yang akan kami kerjakan ini pasti dia yang desain jadi langsung saja saya suruh datang kesini. Pas saya telepon dia, ternyata dia juga baru bangun tidur. Hmm,, Rapanya Allah mengaharuskan saya unutk sendiri saat ini disini. Oke, saya lanjutkan Prosesi Menuggu ini. Ingin sekali rasanya meng-sms si Klien ku ini untuk menanyakan keberadaannya “lagi” tapi rasanya ga sopan. Kok saya yang butuh, saya yang mendesak? Kan ga ada sopan-sopanya sama sekali.. Menunggu kembali dilanjutkan.
30 menit, 45 menit, sejam, sejam lewat seperempat belum juga ada tanda-tanda orang-orang yang saya tunggu ini akan datang. Sampai akhirnya memasuki 90 menit waktu menunggu saya, datanglah dua orang Cewe’ berjilbab dengan senyuman ga ada dosa gitu mendekat ke saya.
“Maaf Ka’ telat datangnya. Kakak belum lama nunggu kan?” tanya si “Klien”ku ini. (tadinya sih seneng waktu dia minta maaf karena telat tapi pas dengar pertanyaannya langsung hilang senengnya).. Dengan senyum akhirnya saya jawab, “Ga papa de’, kan memang janjinya Ba’da Ashar jadi ade’ belum telat kok”. Kemudian mereka saya persilahkan duduk. Tak lama setelah  itu, teman saya Deemonn pun datang juga dan langsung bergabung dengan kami untuk membicarakan Project ini..

Hmm… sekarang jadi bingung mau buat gimana endingnya ini cerita. Rasanya ga enak banget kalo harus begini saja endingnya, tapi udah betul-betul ga ada yang mau diceritakan. Kan tadi niatnya Cuman mau ceritakan yang waktu saya menunggu ini..
Mungkin Cuma sedikit saran aja dari saya sebelum saya mengakhiri ketikan saya ini, 
“Kawan,, lain kali kalau kalian harus berjanji tetap ingat bahwa janji adalah Hutang, tetap harus ditepati, dilunasi secara utuh. Kepercayaan itu biasanya diukur dari seberapa bisa Kita menepati Janji kita. Dan INGAT Kawan,, jangan coba-coba berjanji dengan penunjuk Waktu yang ambigu seperti saya tadi kalau kalian bukan tipe orang yang Jago menunggu. OKE….”.
Wassalaam…

Minggu, 10 Maret 2013

Coretan Pertama (Introducing)

 

Alhamdulillah,, akhirnya kesampaian juga buat Blog.. Hal yang sejak dulu ingin saya buat yaitu blog. Tapi dulu dengan sekarang itu sudah beda, kalau dulu tujuan saya buat blog itu biar dibilang ga Gaptek. Nah,, kalau sekarang tujuan saya buat Blog itu unutk Share sama kalian apa yang saya ketahui juga apa yang saya baru dapatkan. 
Selain itu, saya juga senang sama yang namanya "MENULIS". Dulunya sih saya nulisnya hanya di lembaran-lembaran kertas yang kalo lembarannya udah penuh trus di buang. Nah sekarang saya ingin tulisan ku itu bisa di baca sama orang lain juga.
Well, ini blog sebenarnya bukan blog pertama saya. Tahun lalu saya sempat mencoba untuk membuat Blog dan "berhasil" tapi karena niatnya ga bener yah jadinya juga Blog asal jadi. Sekarang ga tau tgimana kabarnya blog itu (Semoga dia bae-bae disisi-Nya) hehehehehe...
Oh Iya, saya mau perkenalkan diri saya sekalian nih. Saya Iccank, nama lengkap ku Khaerul Ihsan. Saya Tinggal di Kendari, capital City-nya Sulawesi Tenggara. Saya sebenarnya bukan orang asli sini, saya aslinya dari Kota Kolaka masih daerah Sulawesi Tenggara juga sih.. Saya disni karena saya kuliah di Universitas Negeri (Universitas Haluoleo), saya mengambil jurusan Teknik Sipil. 
Hmmm,, apalagi yang harus saya tulis yah?? Jadi bingung sendiri nih,,
Kalau gitu,, kenalannya sampai sini saja yah. Kalo masih penasaran, tinggalkan saja Komentar+Pertanyaan. Insya Allah saya akan jawab.

Thanks sudah mau baca tulisab acak-acakan ini. Wassalam!!!