Sabtu, 19 Oktober 2013 pukul 18.18 WITA
Saat ini
merupakan malam terakhir-ku menghabiskan waktu liburan kuliah di kampung masa kecilku, katakanlah liburan kali ini
merupakan bonus dari hari raya Idul Adha buatku yang sejatinya liburan kali ini
deberikan oleh pihak kampus sehubungan dengan adanya kegiataan pertemuan Forum
Rektor se- Indonesia – Thailand yang sekaligus dengan Expo kampusku.
Minggu 13
oktober atau dua hari sebelum perayaan hari raya Kurban saya bertolak dari kota
Kendari, tempat tinggalku sekarang. Menggunakan sebuah sepeda motor saya pun
meluncur dengan penuh semangat dan dengan rasa Rindu tak tertahan bak sebuah
granat nenas yang hulu ledaknya telah dilepas dan siap memporak-porandakan
titik dimana ia akan dijatuhkan. Rindu kepada kedua orang tuaku juga kepada
adik bungsuku Firda yang telah lama tak kujumpai, sekalipun suara mereka hamper
setiap hari kudengarkan melalui telepon.
Perjalanan
selama dua jam dari Kendari menuju kota kecil dimana saya tumbuh besar pun
menjadi tak terasa, yang semakin terasa hanyalah rasa ingin jumpa kepada mereka
Malaikat serta bidadari ku di rumah. Sepanjang perjalananku kali ini terbilang
cukup berwarna, bukan karena ada pelangi yang kujumpai di melainkan karena dua
kali kujumpainya darah korban kecelakaan di jalanan yang kulewati. Hal itu pula
yang membuatku terpaksa beristirahat dari perjalananku untuk menenangkan diri
setelah melihat darah dan korban kecelakaan yang tergeletak ditengah jalan.
Tetapi, inti
dari apa yang akan saya ceritakan kali ini bukanlah tentang cerita berlebaran
bersama keluarga ku yang sudah pasti penuh suka cita, bukan pula mengenai
detail dari cerita silaturuhamiku ke setiap rumah sanak saudara maupun kolega
terdekatku. Iya, ini tentang situasi yang terjadi di kota kecilku saat ini. Karena
ada banyak hal yang berubah menurutku, mulai dari setiap sudut kota yang tak
lagi sama dengan apa yang terekam indah dalam memoriku sampai pergeseran
nilai-nilai social,budaya bahkan politik dari apa yang pernah saya lalui
dahulu.
Ceritakupun
kembali mengerucut bukan dari membahas setiap perubahan tersebut secara umum,
tetapi perubahan yang menurut saya membuat kotaku ini diambang kegelapan bahkan
bisa membuat semua cerita hebat tentang kota ku yang dulu diminati banyak orang
ini menjadi tiada arti lagi.
Wonua Mekongga diambang kehancuran…..
Cerita
ini bermula dari perubahan system perpolitikan yang terjadi dinegeri ini.
Perubahan yang kemudian mengantarkan orang-orang menjadi begitu serakah,
berebut tahta dan jabatan dengan menghalalkan segala cara.
Adalah
Demokrasi, kata yang begitu agung
dan diagung-agungkan sebagai sistem pemerintahan yang kata mereka cocok untuk
negeri ini. Dimana kata-kata manis “Dari Rakyat, Oleh rakyat dan Untuk Rakyat”
menjadi rayuannya berhasil memperdaya rakyat dinegeri ini. Bukan karena sistem
yang keliru, tapi karena manusia serakah yang ada dinegeri ini yang memaknai
demokrasi sebagai tambang buat mereka mengeruk seluruh potensi yang ada
dinegeri yang kaya ini untuk kepentingan pribadi mereka.
Betapa
tidak, tengok saja sejak berlakunya pemerintahan dengan sistem demokrasi segala
aspek kehidupan dinegeri ini menjadi kacau tanpa terkecuali. Bahkan telah ada
yang berani berkata bahwa zaman orde baru
saat ini kembali dirindukan.
Sejak para
kepala daerah dipilih secara langsung oleh rakyat, banyak orang-orang munafik
bermunculan kepermukaan. Berpura-pura peduli dengan kondisi bangsa, mengobral
janji, membual sana-sini saat berkampanye agar mereka terpilih tetapi begitu
mereka menduduki jabatan, apa yang mereka lakukan? Fakta bahwa begitu banyak
kepala daerah (sebut saja mereka pencuri) yang ketika berhenti menjabat
langsung ditangkap dan ditahan karena keserakahan mereka. Dan tidak kalah
banyaknya pula kepala daerah yang dipaksa mengakhiri karirnya secara premature
oleh Penegak Hukum karena masalah yang sama seperti yang diatas. Itu semua
akibat tidak dimaknainya “demokrasi” sebagai sistem yang baik.
Nah, hal itu
pula yang terjadi didaerah ku saat ini. Besok (20/10) merupakan hari yang
katanya bersejarah bagi wonua mekongga-ku karena boleh jadi esok hari akan
terpilih pemimpin yang agung nan suci yang akan membawa mekongga kepada
kejayaannya seperti saat Bokeo Sangia ni Bandera memimpin Mekongga. Tetapi
besar kemungkinan itu hanya mimpi yang akan terus datang disetiap pemilihan kepala
daerah dikotaku ini.
Hal yang membuat
saya berpikiran hingga se-ekstrim ini karena sehari setelah saya tiba disini,
saya sudah disuguhi tontonan aksi kotor para tim sukses calon kepala daerah
ini. Saat sang fajar baru memulai memecah gelap pagi hari, saat saya baru saja
menjalankan ibadah shalat subuh saya sudah mendapati 2 lembar kertas didepan
pintu rumah. Ahh,, pikiranku berkata bahwa itu hanya salah satu modus penipu
untuk mencari uang, sama sepperti mama yang meminta pulsa karena sedang dikantor
polisi. Tetapi saat kertas itu hendak kulangkahi, mataku dipaksa menoleh kembal
kearah kertas tersebut. Kudapati gambar seorang calon kepala daerah dikertas
tersebut telah diedit sedemikian halusnya sehingga nampak si calon tersebut
keliahatan lemah dan takut menghadapi seorang wanita yang dikertas tersebut
digambarkan sebagai istri dari si calon. “Jangan pilih Pemimpin yang kepada
Isterinya saja takut!!”, begitu tulisan dikertas tersebut menjadi judul bacaan
pertamaku subuh itu.
Begitu rendahnya
mereka (para calon) menghargai rakyatnya, sehingga dengan tidak merasa
berdosa mereka menghamburkan fitnah keji kemasyarakat. Mengajak semua
orang-orang yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi ikut-ikutan memfitnah
yang bisa saja berujung pada keributan antar pendukung calon terntentu.
Tak sampai
disitu, hari ketigaku di kota ini kembali saya diperdengarkan berita tentang
tanda—tanda kehancuharan negeri ini. Pagi itu, sekitar pukul 09.30 waktu
setempat tengah berlangsung pelantikan pejabat-pejabat baru dalam tatanan
pemerintahan. Salayaknya berita itu tidak akan heboh kalau saja kita semua
tidak tahu apa yang menjadi penyebab dari pelantikan, pemutasian bahkan
pencopotan jabatan yang terjadi dipagi itu. Atau kalau saja hal itu terjadi
karena alasan yang sewajarnya.
Dari sumber yang
sangat bisa saya percaya kegiatan tersebut merupakan intrik dan manuver politik
yang dilakukan oleh salah satu calon kepala daerah yang notabene adalah
incumbent. Orang-orang dinilai tidak berada dipihaknya yang mempunyai jabatan
strategis dan dianggap punya pengaruh dan berpotensi bisa mempengaruhi
bawahannya dicopot jabatannya tanpa ampun. Tak sedikit dari korban politik itu
di “buang” kedaerah terpencil dan ditugaskan disana. Sementara sebagai
pengganti mereka dipilih orang-orang yang telah mengikat janji untuk mendukung
penuh si Incumbent.
Tentu kita semua
tahu kenapa ini menjadi titik kehancuran wonua mekongga. Pemerintahan yang
bekerja tidak lagi berpikir untuk meningkatkan pelayanan, kinerja serta
tanggung jawab bekerja. Mereka semua bekerja demi jabatan dan uang. Kinerja
seseorang tidak lagi menjadi poin utama dalam penentuan pemimpin dari setiap
posisi penting dipemerintahan, yang dibutuhkan dalam menentukan siapa yang
layak adalah siapa yang tunduk terhadap kemauan pemimpin. Tak jarang pula
orang-orang kemudian rela menjual harga diri, rela diperbudak, bahkan menjadi
penjilat demi mendapatkan kedudukan.
Sungguh miris
mendapati kenyataan bahwa mereka yang berkompeten, bertanggung jawab dan
berintegritas harus tersingkirkan dan kehilangan kesempatan untuk memajukan
daerah hanya karena keserakahan manusia yang mendewakan Uang dan jabatan.
Mereka tergantikan oleh orang-orang yang tak punya rasa malu, yang rela
melakukan apapun agar bisa mendapatkan jabatan penting tanpa harus berdarah—darah
merintis karir dari bawah, dengan hanya tunduk-tunduk dan terus mengiyakan
setiap apa yang keluar dari mulut penguasa tanpa harus memastikan kata-kata
tersebut benar atau tidak. Dan lagi-lagi itu telah terjadi, benar-benar nyata
adanya.
Maka sampailah
saya pada sehari sebelum pesta rakyat yang mereka nantikan itu ( sengaja saya
menunda kepulangan saya karena ingin menyaksikan moment tersebut). Dihari ini,
saya lagi-lagi mendapati kejadian yang begitu mengganggu pikiran ku. “Serangan
Fajar”, istilah tersebut merupakan jurus yang mereka anggap paling ampuh untuk
menarik suar masyarakat. Yaa,, serangan fajar merupakan praktik Money Politic yang dijalankan
didetik-detik akhir masa kampanye. Harapannya adalah orang kemudian berubah
pikiran untuk memilih si penyerang.
Siang tadi rumah
saya kedatangan tamu yang tak asing bagi keluargaku, dia masih sepupu
(keponakan ayahku). Tak lazim kehadirannya siang tadi, karena secara
blak-blakan langsung menyerahkan 4 buah amplop putih bertuliskan salah satu
nama Calon Kepala Daerah yang ikut bertarung lengkap dengan nomor urut si calon
itu. Oh tidak…. Rumah kami mendapat serangan fajar!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar